Banyaknya pedagang Arab, India dan Cina yang datang ke tanah air untuk berdagang, secara langsung maupun tidak langsung berbaur dan berpadu dengan kebudayaan masyarakat lokal sehingga membentuk peradaban-peradaban baru. Ditandai dengan masuknya ajaran-ajaran agama seperti Hindu, Budha dan Islam ke tanah air ini membawa keberagaman budaya yang memberikan keunikan tersendiri.
Sejarah yang dimiliki negara ini sangatlah panjang sehingga tak dapat dipungkiri bahwa kerajaan Hindu-Budha yang ada di nusantara ini pada jaman dahulu memiliki kekuatan serta wilayah yang sangat luas. Kita tentu pernah mendengar atau membaca tentang kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya pada masanya seperti kerajaan Tarumanegera, Sriwijaya dan kerajaan Majapahit yang begitu tersohor dengan Patih Gajah Mada–nya yang juga merupakan saksi kebangkitan kerajaan Hindu di nusantara. Kerajaan Majapahit adalah bukti nyata atas besarnya pengaruh serta kekuatan kerajaan Hindu di wilayah Jawa dengan wilayah kekuasaan yang luas dan hampir meliputi seluruh Semenanjung Melayu.
Sisa-sisa peninggalan serta bukti sejarah peradaban masyarakat kita pada masa lampau tersebut tersebar dibeberapa tempat dan daerah di tanah air. Akan tetapi nyaris semua peninggalan sejarah tersebut kurang mendapatkan perhatian serius karena banyak situs-situs bersejarah yang masih tampil dengan kondisi yang seadanya. Salah satu contohnya bila kita melihat dari dekat sebuah wihara yang terdapat di pinggiran kota metropolitan, Jakarta. Namanya adalah Wihara Buddha Bhakti atau biasa disebut dengan Klenteng Ancol. Letaknya di tepi pantai Ancol, masih berada di dalam kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol.
Di dalam bukunya Historical Sites of Jakarta, Adolf Heuken mengatakan bahwa dulu sekitar abad 17 sampai 18, kawasan Ancol merupakan sebuah kawasan hunian yang mewah dengan taman-taman yang besar dan indah. Namun karena timbulnya wabah malaria, daerah yang berawa-rawa ini mulai ditinggal oleh penghuninya. Para warga melakukan eksodus besar-besaran meninggalkan daerah Ancol.
Kompleks Klenteng Ancol (Klenteng Toapekong) ini didirikan di sekitar tahun 1650 Masehi sebagai tempat peribadatan umat Buddha dan Konfusius. Uniknya, para pengunjung di Klenteng Ancol ini tidak semuanya penganut ajaran Buddha maupun Konfusius, karena tak jarang juga diantara mereka adalah kaum muslim. Mengapa? Mungkin Anda juga sedikit bertanya-tanya, mengapa kaum muslim juga mengunjungi Klenteng Ancol ini.
Hampir tak ada yang berbeda dari bentuk dan fungsi klenteng ini dengan bangunan klenteng pada umumnya. Yang membedakan klenteng ini dengan bangunan klenteng lain adalah terdapatnya makam beberapa tokoh umat muslim Sunda tempo dulu. Namun pertanyaannya adalah bagaimana hal itu bisa terjadi. Hal itu dimungkinkan karena pada saat itu, Laksamana Cheng Ho – sebagai penganut Islam, menjadikan klenteng ini sebagai tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai macam latar belakang agama dan budaya. Jadi selain fungsi utamanya sebagai tempat peribadatan umat Budha dan Konfusius, Klenteng Ancol juga memiliki fungsi lain. Patut diketahui, Cheng Ho mengunjungi tempat ini berulang kali bersama armadanya meski dari berbagai sumber mengatakan bahwa Laksamana Cheng Ho tidak pernah turun dari kapal dan ia hanya menugaskan pejabat-pejabat kepercayaannya untuk melakukan kunjungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lokal.
Adalah Sam Po Soei Soe, seorang pejabat kepercayaan Cheng Ho yang kemudian menikah dengan seorang putri bangsawan Sunda bernama Siti Wati. Siti Wati merupakan putri dari Embah Said Areli Dato Kembang dan Ibu Enneng. Baik Sam Po Soei Soe maupun Siti Wati keduanya sama-sama memeluk agama Islam dan saat menikah, keduanya berjanji untuk tidak menghidangkan atau menyajikan babi yang diharamkan dalam ajaran Islam di dalam area klenteng. Petai dan jengkol pun juga dilarang karena dianggap dapat memberikan bau yang tidak sedap, hal tersebut dilakukan sebagai rasa saling menghargai diantara keduanya.
Selain makam dari Sam Po Soei Soe dan istrinya, Siti Wati, di dalam klenteng ini terdapat juga makam Embah Said Areli Dato Kembang (ayah dari Siti Wati) dan Ibu Enneng (ibu dari Siti Wati) beserta para pengikut setia lainnya. Batu nisan yang terdapat pada makam-makam tersebut ditulis dengan menggunakan huruf Hanzi dan Melayu. Tempat ini menjadi tempat ziarah bagi umat Islam maupun etnis Tionghoa. Oleh karena itu di klenteng Ancol ini telah disediakan perlengkapan untuk berziarah dan beribadat sesuai cara Islam, Buddha maupun Konfusius.
Dari situs religius dan bersejarah ini terkandung sebuah pesan agar semua elemen masyarakat saling menghargai dan menghormati sehingga akan tercipta kerukunan antara sesama manusia dan antar umat beragama. Keberadaan klenteng Ancol sebagai sebuah bangunan dengan nilai budaya dan kepercayaan luhur ini seperti terkubur di tengah pesatnya pengembangan dan pembangunan Jakarta sebagai kota metropolitan. Klenteng Ancol seharusnya bukan hanya sebagai tempat peribadatan dan berziarah saja. Namun lebih dari itu, bangunan ini seharusnya mendapatkan perhatian ekstra karena terkandung potensi wisata budaya dan religi di kota Jakarta. Perhatian pemerintah dan keikutsertaan masyarakat diharapkan mampu melestarikan salah satu ikon budaya di tanah air ini.
Ukiek Arief Yudono (For BCA Prioritas Magazine-2009)